Langsung ke konten utama

Membakar Firasat


Imam Syafi'i merasa aneh dengan orang yang menjamunya. Berdasarkan ilmu firasat yang dikuasainya, orang itu mestinya berperilaku buruk. Ilmu firasat membahas tentang karakter atau sifat seseorang berdasarkan ciri-ciri fisik dan gesturnya. Biasanya, Imam Syafi'i tak pernah salah menilai orang berdasarkan ilmu tersebut. Tapi kali benar-benar anomali, nyeleneh. Orang yang dianggapnya buruk, justru berperilaku sangat baik padanya.

Orang itu menjamu Sang Imam dengan penuh perhatian. Ia bahkan mengusir anaknya sendiri demi memberikan kenyamanan bagi Imam Syafi'i. Di pagi harinya, ia siapkan air hangat untuk Sang Imam. Imam Syafi'i merasa bahwa ilmu firasat yang ia pelajari tak berguna bahkan menyesatkan. Ia ingin membakar kitab firasat yang dimilikinya.

Imam Syafi'i hendak melanjutkan perjalanan setelah merasa cukup beristirahat. Ia pamit dan berterimakasih kepada tuan rumah yang telah menjamunya sedemikian baik. Imam Syafi'i mungkin agak merasa bersalah karena di awal perjumpaan menganggap orang itu adalah tipe manusia yang buruk. Ketika Imam Syafi'i mengutarakan maksudnya, si tuan rumah menyergah. Lelaki itu minta bayaran sewa jasa menginap kepada Imam Syafi'i. Weh, ternyata Imam Syafi'i menginap di hotel dadakan. Untung saja ia belum membakar kitab firasat yang dimilikinya....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …