Langsung ke konten utama

Gigi Seri Suhail

Suhail bin Amr adalah orator kebanggaan Suku Quraisy. Ketika tiba masa Islam, dia menjadi salah satu musuh besar dakwah Rasul. Dialah yang memprovokasi para jamaah haji agar tidak mendengarkan seruan dakwah. Dia juga yang menjadi perwakilan kafir Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah yang melegenda. Diksi-diksi yang ia pilih dalam perjanjian itu menunjukkan kepiawaiannya sebagai politisi kelas kakap bahkan paus.

Konsistensi Suhail dalam memusuhi Islam mencapai taraf akut sekaligus mengagumkan. Dia bersama Ikrimah bin Abu Jahal dan Shafwan bin Umayyah adalah beberapa orang yang masih ngeyel mengangkat pedang ketika terjadi Fathu Makkah. Saking menyebalkannya orang ini, Umar pernah ingin merontokkan gigi-gigi Suhail agar dia tak mampu lagi berorasi. Rasul melarang Umar, “mudah-mudahan esok ia akan menempati suatu tempat seperti yang engkau sukai.”

Rasul benar, Suhail pada gilirannya turut mencicipi manisnya iman. Jika sebelumnya ia menunjukkan komitmen yang luar biasa kepada para berhala, kini ia menjadi muslim yang kokoh imannya. Matanya sering basah disebabkan takutnya kepada Allah. Ia rajin mendirikan shalat dan berpuasa sebagai upaya menebus dosa masa lalunya.

Madinah geger ketika Rasul wafat, Umar yang segagah itupun tak mampu mewadahi kesedihan dengan hatinya yang menyempit. Untungnya Abu Bakar segera tampil dengan kalimatnya, “siapa yang menyembah Muhammad, sungguh Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah tetap hidup dan tak akan pernah mati.” Kegelisahan penduduk Madinah terhapuskan oleh keberadaan Abu Bakar di antara mereka. (baca: Mengakrabi Krisis)

Kabar wafatnya Rasul berhembus sampai ke Makkah berpotensi memicu gelombang kemurtadan penduduknya yang baru beriman. Ath-thulaqa’, kelompok yang beriman ketika Fathu Makkah masih sangat rawan lepas imannya. Di masa kritis itulah Suhail bin Amr menunjukkan kelasnya sebagai orator. “Wahai orang-orang Quraisy,” Suhail berseru, “janganlah kalian menjadi orang-orang yang terakhir keislamannya dan paling awal kemurtadannya. Siapa yang membuat keragu-raguan pada kami maka kami akan menebas lehernya!”

Kalimat demi kalimat Suhail berhasil meneguhkan iman penduduk Makkah yang nyaris copot. Kepahlawanan Suhail tersiar hingga Madinah, menyusup ke telinga Umar bin Khattab. Kali ini ia sumringah dan bersyukur mendapatkan manfaat dari gigi-gigi Suhail yang tak jadi ia rontokkan. Umar, kali kedua dengan Suhail yang sama, rasa yang berbeda.
Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarak Kesabaran

“Ya Rasulallah, pernahkah Engkau mengalami hari yang lebih sedih dari Perang Uhud?” tanya Aisyah.

Anyir darah dan suara pedang yang patah di lembah Uhud masih menggiring kesedihan yang sama. Tragedi itu tetap mengiris hingga masa yang jauh setelahnya. Dialog yang dimunculkan Aisyah tentang Perang Uhud bakal menarik, menyuguhkan cuilan hikmah dengan renyah. Pertanyaan Aisyah ditanggapi Rasulullah dengan aliran narasi menyentuh hati tentang kepedihan dakwah di Thaif. Itulah masa yang lebih perih dari tragedi Uhud, penolakan Thaif menyakiti Rasul bertubi-tubi.
Makkah semakin tak ramah dengan dakwah setelah berpulangnya Abi Thalib dan Khadijah. Rasul berbenah agar kalimat Allah tak punah dicaplok manusia-manusia jahiliyah. Dipilihlah Thaif sebagai alternatif membina dakwah. Thaif adalah primadona, bahkan Quraisy ingin meleburnya dengan Makkah. Pemuka Quraisy banyak yang membeli kebun-kebun Thaif dan melakukan kongsi ekonomi dengan penduduknya. Bila Rasul berhasil menyuburkan Islam di sana …

Outfit

Ada kaidah umum yang berlaku di Al-Anwar, diajarkan langsung oleh Mbah Moen:
زاد خشوعا زاد جهلا Makin khusyuk, makin goblok. Maksudnya khusyuk tapi gak pakai ilmu. Ali bin Abi Thalib pernah curhat bahwa selama jadi khalifah beliau paling ruwet menghadapi dua jenis orang: berilmu tapi fasik dan berpenampilan khusyuk tapi bodoh. Nah, jenis yang kedua lebih bahaya dari yang pertama.
Gus Baha pernah mewanti-wanti agar jangan terlalu menampilkan kekhusyukan, ntar dikira wali. Yang model begitu rawan dimintai fatwa, padahal gak mudeng apa-apa, malah menyesatkan. Menonjolkan sisi manusiawi itu perlu. Nabi saja pernah lupa bilangan rakaat shalat, bukan aib untuk beliau tapi kemudahan untuk kita. Lagian kalau Nabi Muhammad terlalu sempurna, bisa-bisa malah disembah sebagai tuhan seperti rasul sebelumnya. Wadidaw!

Lubang dalam Hati

Bertahun lalu saya melihat dosen saya menggunakan iPhone 3Gs alias iPhone generasi kedua. Sejak itu iPhone menjadi cita-cita mulia saya. Dosen saya menggunakannya,maka bagi saya punya iPhone berarti menjadi bagian dari kelompok sosial yang sama dengan dosen saya. Tahun-tahun berlalu, muncul berbagai seri baru, impian saya tak kunjung wujud. Saya masih akrab dengan kesederhanaan yang terpaksa. Tahun 2017, kala iPhone 6 mulai populer di Indonesia, akhirnya saya bisa memakai iPhone 3GS. Baterainya cuma kuat beberapa jam, bodinya sudah astaghfirullah. Saya pakai dua hari. Tahun itu memang sudah bukan lagi masanya iPhone jadul tersebut hidup. Kisah kami padam sebelum menyala.Saya masih menginginkan iPhone, semangat yang mungkin sama dengan Naruto ingin jadi hokage. Naruto akhirya jadi hokage setelah 10 tahun tayang dengan 700an episode. Saya akhirnya juga berhasil membeli iPhone setelah berjuang sepuluhan tahun. Ngenesnya, lagi-lagi gaji saya sebagai guru swasta hanya cukup untuk membeli i…

Move On

Kesedihan hanya menusuk sedalam yang kita izinkan! Duka atas kematian para shahabat dalam Perang Uhud tak menjadikan Rasul kehilangan kewaspadaannya terhadap musuh yang mungkin kembali menyerang. Setelah perang berakhir Beliau mengutus Ali bin Abi Thalib untuk membuntuti pasukan musyrikin dan menyelidiki pergerakan mereka. Kewaspadaan Rasul dan kemampuan beliau untuk memprediksi gerakan musuh terbukti akurat. Ali melaporkan bahwa pasukan musuh menunjukkan gelagat ingin menyerang Madinah.
Esok harinya Rasul menyeru pasukannya untuk kembali berjihad. “Janganlah keluar bersama kami kecuali orang-orang yang ikut bersama kami dalam Perang Uhud kemarin!” Para shahabat segera menjawab seruan Rasul, termasuk mereka yang sedang terluka parah. Bahkan di antara mereka ada yang belum sempat memasuki rumahnya. Sami’na wa atha’na, kini tak seorang pun dari mereka yang berambisi untuk merebut ghanimah. Pasukan yang masih lemah itu lantas bergerak mengejar kaum musyrikin.
Rasul tinggal di Hamraul Asad …

Golput

- Anda ingin makan sate larva amfibi* atau tumis microchiroptera**? + Saya tidak mau keduanya. - Anda mau tidak mau harus memilih! + Tapi saya benar-benar tidak mau keduanya! - Ah, anda sesat!

Hari-hari berlarian meninggalkan masa kerasulan, empat khalifatu rasulillah pun telah menghadap Rabb-nya. Umat muslim mengalami dinamika kehidupan yang sama sekali berbeda setelah tiadanya Rasulullah. Perang Shiffin adalah fitnah paling menyedihkan, paling terekam dalam memori muslimin. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib mengingat perihnya konflik antara ayahnya dengan Muawiyah dalam peperangan tersebut. Itulah episode getir yang membuatnya bersumpah tidak akan pernah lagi mengangkat pedang di hadapan seorang muslim. Sumpah itu masih ia pegang hingga hari ketika Abdullah bin Zubair, cucu Abu Bakar dari Asma’, mendeklarasikan diri sebagai khalifah setelah meninggalnya Muawiyah.
Abdullah bin Zubair menjalankan pemerintahan dengan baiat sebagian kaum muslimin, demikian pula Daulah Bani Umayah. Kekuasaan Ibn…