Langsung ke konten utama

Ngebus


Ngebus sambil dipaksa nyimak talk show kebangsaan dengan narasumber pak sopir, kondektur dan seorang penumpang. Temanya random dari otokritik tentang korupsi hingga jaminan perlindungan hukum dan HAM. Menariknya, soal masalah politik ketiganya punya jagoan yang berbeda: Jokowi, Soeharto dan SBY. Jokowi dianggap bebas korupsi, SBY tegas dan Soeharto agak sulit saya simpulkan.

Berkaitan dengan korupsi, ketiganya sepakat bahwa masalah ini bakalan sulit diselesaikan, jika tak dikata mustahil. Korupsi adalah budaya yang langgeng dari generasi ke generasi. Mereka sumeleh bahwa lapis masyarakat kelas bawah pun melakukan tindak korupsi. Kuli bangunan korupsi semen, mandornya korupsi upah, mereka sendiri juga korupsi, IYKWIM.

Pembahasan berpindah ke hak-hak warga negara. Mereka beropini hendaknya negara tak ikut campur dalam ranah privat. Judi misalnya, semestinya dilegalkan karena setiap orang berhak menggunakan uangnya sesuai keinginannya. Diskursus perdebatan antara komunitarianisme vis a vis liberalisme ternyata tak cuma hadir di kelas filsafat. Ehe!

Diskusi rehat sejenak, ngisi bensin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …