Langsung ke konten utama

Sawang Sinawang

Salah satu ujian berat bagi seorang pendidik adalah melihat peserta didik yang tidak sesuai harapan. Awal-awal menjadi guru rasa frustasi mengahadapi ketidakmampuan siswa mungkin jamak dirasakan. "Ngene wae gak isoh!" Makin dipikir makin puyeng lah... Bagaimana mengahadapi situasi tertekan semacam itu? Kembalilah menjadi menjadi siswa. Bayangkan kembali keadaanmu dulu saat menjadi siswa. Bisa apa saat itu? Apakah lebih baik atau sebaliknya? Resep ini biasanya manjur untuk ngademin hati.


Sewaktu jadi guru ngaji di sebuah SD, saya sering geregetan dengan anak-anak yang sulit menghafal. Saya kemudian insyaf, sewaktu SD hafalan saya lebih sedikit dari mereka. Sewaktu membaca makalah mahasiswa yang mengenaskan, saya bisa kalem dengan mengingat betapa gak bermutunya makalah saya dulu (sampai sekarang). Guru sering stress dengan kondisi siswa karena menggunakan standar yang salah sebagai ukuran. Membandingkan kemampuan siswa dengan kemampuan guru tentu tak adil. Mari sama-sama bertobat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …