Langsung ke konten utama

Shalatnya Nabi


Dulu ada tabi'in bilang kalau dia ketemu nabi bakalan memuliakan nabi sampai beliau gak perlu nginjak tanah. Terus ada sahabat yang njawab kalau hidup di masa nabi itu berat. Maksudnya, yang sesumbar mau memuliakan nabi belum tentu kuat kalau beneran berjuang bareng nabi. Jangankan memuliakan, bisa jadi malah masuk koalisinya Abu Jahal.

Halah, jangankan diajak jihad yang berat-berat. Kita-kita yang sok yes ngaku pencinta nabi kalau diajak shalat jamaah sama beliau paling-paling malah melipir. Shalat tarawih wae cari yang ekspres. Ada sahabat curhat, "Aku pernah ngitung sedari nabi takbir, aku tinggal pulang, nyembelih kambing, nguliti, masak, makan, balik lagi, eh nabi masih rakaat pertama." Kowe apa ya kuat?

Bersyukurlah gak ketemu nabi, berislam bisa ringan saja levelnya. Kalau mau shalat gak perlu was-was dipanah musuh. Lha wong gak disatroni Abu Jahal saja kita ini males ke masjid, kok sok-sokan pamer kesalehan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …