Langsung ke konten utama

Shalatnya Nabi


Dulu ada tabi'in bilang kalau dia ketemu nabi bakalan memuliakan nabi sampai beliau gak perlu nginjak tanah. Terus ada sahabat yang njawab kalau hidup di masa nabi itu berat. Maksudnya, yang sesumbar mau memuliakan nabi belum tentu kuat kalau beneran berjuang bareng nabi. Jangankan memuliakan, bisa jadi malah masuk koalisinya Abu Jahal.

Halah, jangankan diajak jihad yang berat-berat. Kita-kita yang sok yes ngaku pencinta nabi kalau diajak shalat jamaah sama beliau paling-paling malah melipir. Shalat tarawih wae cari yang ekspres. Ada sahabat curhat, "Aku pernah ngitung sedari nabi takbir, aku tinggal pulang, nyembelih kambing, nguliti, masak, makan, balik lagi, eh nabi masih rakaat pertama." Kowe apa ya kuat?

Bersyukurlah gak ketemu nabi, berislam bisa ringan saja levelnya. Kalau mau shalat gak perlu was-was dipanah musuh. Lha wong gak disatroni Abu Jahal saja kita ini males ke masjid, kok sok-sokan pamer kesalehan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mumpung Sepi⁣ ⁣

Saya pernah membaca twit tentang para rohaniawan yang melakukan selibat. Katanya, ujian terberat bagi mereka adalah kesepian. Saat mereka memutuskan melayani tuhan, mereka terputus hubungan kekerabatannya dengan siapapun. Saat mereka sakit tak bisa lagi berharap dirawat oleh sanak saudara. Mereka tak punya orang-orang terkasih untuk sekadar curhat. Sepi mungkin bisa mengintimkan hubungan manusia dengan tuhan tapi iman yang naik turun tak mesti selalu siap hanya bermesra dengan tuhan.⁣

Kesepian itu menakutkan bahkan mematikan. Lihatlah orang-orang yang nekat jalan-jalan di masa pandemi sekadar ingin menghilangkan sepi. Beberapa orang mungkin memang sangat tertekan jika harus bertahan di rumah. Bayangkan seorang jomlo hidup di kosan, tanpa teman, tanpa kuota, HP Xiaomi dan motornya Beat. Sepi sanggup membawanya kepada bunuh diri. Nah, apakah yang mesti dilakukan agar tak kesepian di masa karantina diri?⁣

Pertama, membaca. Suasana sepi cocok untuk membaca, fokus kita tak ambyar ke ma…

Ulya

Anak yang berpose mangap sepertiku bernama Ulya. Ini bocah yang bikin aku gak PD jadi guru. Lha piye, pinteran dia daripada aku. Mulanya aku ngajar dia bahasa Arab, lantas ganti jadi tahfizh, hafalan Qur'an. Seingatku foto ini diambil ketika dia kelas 2 dan dia sudah hafal puluhan surah. Yap, anak ini sudah hafal berjuz-juz sebelum baligh. Terus piye perasaanmu nèk ngajar bocah ngéné iki?
Sewaktu seumuran dia, aku baru belajar Iqra'. Kelas empat aku baru hafalan Syifaul Jinan fi Tarjamati Hidayatish Shibyan (شفاء الجنان في ترجمة هداية الصبيان) karya Ahmad Muthahhar bin Abdurrahman, itupun belum paham maksudnya. Kelas 5 mulai praktik dan tahun berikutnya mulai talaki selama 3 tahun lebih untuk menyelesaikan bacaan 30 juz. Artinya, Ulya yang masih kelas 2 SD lebih baik dariku ketika SMA perihal Al-Qur'an.
Pengalaman mengajar anak-anak seperti Ulya ini menggedor kesadaranku bahwa jadi guru adalah tugas berat. Dilan belum tentu kuat. Harga diriku babak belur ketemu anak-anak y…

Raksasa Tua

Episode 1 Steve Jobs misuh-misuh melihat user interface Android yang dianggap menjiplak iOS. Sampai menjelang kematiannya pun ia masih berambisi menghancurkan Android. Ia bersumpah melawan Android hingga napas terakhir, bahkan rela menghabiskan semua kekayaan Apple untuk perang!
Januari tahun 2007, Steve Jobs meluncurkan iPhone pertama. Microsoft adem ayem saja, sementara tim Google yang hendak melahirkan Android jadi belingsatan. Prototype Android serasa jadul di hadapan iOS. Tim Google gerak cepat, Android dibongkar ulang, peluncuran ditunda setahun. Mereka terinspirasi dengan iOS, atau memang menjiplaknya seperti tuduhan Steve Jobs. Meski terkesan mirip tapi Android punya kelebihan, murah bahkan gratis. Gratis adalah hal yang tabu bagi perusahaan software, apalagi Microsoft. Google seperti sedang membuat lelucon.
Microsoft masih adem ayem, bahkan mereka lah yang sebelumnya menolong Apple dari krisis. Microsoft sering digugat karena diangggap memonopoli bisnis software, mereka butuh…

Gaji dan Kecukupan

Setelah sidang skripsi, alhamdulillah saya segera dapat pekerjaan sebagai guru. Gaji pokok saya lima ratus ribu. Saya masih dapat tambahan dua ratusan ribu karena bertugas sebagai pembina asrama. Artinya saya kerja seminggu penuh, selama dua puluh empat jam sehari dengan gaji pokok sekitar tujuh ratus ribu. Alhamdulillah cukup.
Tak berselang lama, saya kuliah pascasarjana. Iya, modal ngawur dengan gaji di bawah UMR. Kalau dihitung-hitung yang gak masuk blas. Alhamdulillah nyatanya bisa bayar sampai wisuda. Hidup anak muda memang harus ngawur. Gak ngawur, gak isa dhuwur. Untuk pembaca yang masih kuliah atau baru lulus, wajib hukumnya kalian kuliah S2. Wajib!
Gara-gara kuliah S2, saya terpaksa hijrah ke sekolah lainnya. Di sekolah tersebut gaji pokok saya naik sedikit, menjadi satu juta pas. Jadi, awal kuliah gaji saya lima ratus ribu, selanjutnya sejutaan. Gaji segitu untuk kebutuhan hidup dan bayar kuliah, alhamdulillah cukup. Tidak hanya cukup, saya masih bisa beli macam-macam. Bahk…

Sekelumit tentang Jilbab

Apakah semua muslimah di masa Rasulullah memakai jilbab? Tidak.
Ketika ayat tentang kewajiban berhijab turun Madinah memang riuh karena para muslimah yang bergegas nyari kain untuk menutupi rambut mereka. Saking semangatnya mengikuti perintah itu, sampai-sampai sembarangan kain dipakai, entah taplak atau apalah. Hijab langsung menjadi populer di komunitas muslimah tapi tak semua memakainya. Umar bahkan pernah menyuruh seorang wanita melepas jilbabnya. Siapakah mereka yang gak pakai jilbab bahkan memang gak diperintahkan memakainya? Budak wanita. Budak wanita gak disuruh pakai jilbab karena kalau dirunut dari sejarahnya, salah satu hikmah jilbab adalah agar wanita muslimah merdeka dapat dibedakan dengan budak wanita.
Apakah pandangan fikih tentang berjilbab kompak persis? Tidak juga.
Frase "kecuali yang biasa nampak" dalam perintah berhijab sedikit luwes ditafsirkan oleh ulama. Sebagian ulama Kufah sedikit lebih longgar soal batasan tubuh wanita yang mesti ditutup. Mereka mem…