Langsung ke konten utama

Mencaplok Rembulan

Alkisah, dunia sedang dilanda pencemaran lingkungan yang parah. Lautan tak bergerak, airnya menjadi gelap dan bau. Para dewa maupun raksasa sama-sama dalam masalah. Wisnu punya ide untuk menyaring lautan agar kembali jernih. Para dewa bersepakat tapi mereka tak bisa menggarap proyek besar ini sendirian. Wisnu menawarkan rekonsiliasi kepada para raksasa. Raksasa bersedia masuk koalisi dengan kesepakatan bahwa hasil proyek itu dibagi untuk kedua kubu. Gak jadi penguasa tak masalah, penting ikut menikmati SDA untuk kepentingan pribadi, kira-kira begitu pikiran raksasa. Kata Wisnu, proyek ini bakal menghasilkan banyak hal, termasuk air Amerta (asal kata "immortal"), air keabadian, inilah incaran utama raksasa.
Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa yang menjadikan cangkangnya sebagai tumpuan alat pengaduk. Alat pengaduknya adalah Gunung Mandara, talinya Naga Basuki. Para dewa dan raksasa bekerjasama menarik naga dari ujung-ujungnya untuk memutar gunung. Setelah diaduk-aduk, lautan mengeluarkan banyak hal. Lautan tetap diaduk karena hal yang paling diinginkan belum juga keluar. Setelah nyaris menyerah, barulah air Amerta muncul.
Raksasa langsung menyambar air keabadian. Wisnu bergerak cepat, ia menjelma menjadi wanita cantik agar bisa mencuri kembali air itu. Setelah air didapat, Wisnu membagi-bagikannya kepada para dewa. Seorang raksasa bernama Rahu sadar akan tipu daya Wisnu. Ia menjelma menjadi dewa dan ikut mengantre minum Amerta. Surya dan Candra (dewa matahari dan bulan) menyadari keanehan pada dewa palsu. Tapi mereka terlambat, Rahu terlanjur minum Amerta. Wisnu yang akhirnya mengetahui ada dewa palsu langsung mengeluarkan cakranya. Wisnu menebas leher Rahu tepat ketika meneguk air keabadian.
Kepala Rahu terpisah dari badannya tapi tak mati. Ia abadi seperti para dewa meski hanya kepalanya saja yang ngalor-ngidul. Rahu mendendam kepada Surya dan Candra karena keduanya yang pertama membongkar penyamaran saat antre Amerta. Rahu terus-menerus mengejar mereka. Pengejaran itu kadang-kadang berhasil. Rahu mencaplok Surya dan Candra, terjadilah gerhana. Karena Rahu sudah tak punya tubuh, Candra dan Surya selalu berhasil lolos lewat kerongkongan Rahu. Itulah alasan kenapa gerhana tak berlangsung lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Ulya

Anak yang berpose mangap sepertiku bernama Ulya. Ini bocah yang bikin aku gak PD jadi guru. Lha piye, pinteran dia daripada aku. Mulanya aku ngajar dia bahasa Arab, lantas ganti jadi tahfizh, hafalan Qur'an. Seingatku foto ini diambil ketika dia kelas 2 dan dia sudah hafal puluhan surah. Yap, anak ini sudah hafal berjuz-juz sebelum baligh. Terus piye perasaanmu nèk ngajar bocah ngéné iki?
Sewaktu seumuran dia, aku baru belajar Iqra'. Kelas empat aku baru hafalan Syifaul Jinan fi Tarjamati Hidayatish Shibyan (شفاء الجنان في ترجمة هداية الصبيان) karya Ahmad Muthahhar bin Abdurrahman, itupun belum paham maksudnya. Kelas 5 mulai praktik dan tahun berikutnya mulai talaki selama 3 tahun lebih untuk menyelesaikan bacaan 30 juz. Artinya, Ulya yang masih kelas 2 SD lebih baik dariku ketika SMA perihal Al-Qur'an.
Pengalaman mengajar anak-anak seperti Ulya ini menggedor kesadaranku bahwa jadi guru adalah tugas berat. Dilan belum tentu kuat. Harga diriku babak belur ketemu anak-anak yan…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …

Gaji dan Kecukupan

Setelah sidang skripsi, alhamdulillah saya segera dapat pekerjaan sebagai guru. Gaji pokok saya lima ratus ribu. Saya masih dapat tambahan dua ratusan ribu karena bertugas sebagai pembina asrama. Artinya saya kerja seminggu penuh, selama dua puluh empat jam sehari dengan gaji pokok sekitar tujuh ratus ribu. Alhamdulillah cukup.
Tak berselang lama, saya kuliah pascasarjana. Iya, modal ngawur dengan gaji di bawah UMR. Kalau dihitung-hitung yang gak masuk blas. Alhamdulillah nyatanya bisa bayar sampai wisuda. Hidup anak muda memang harus ngawur. Gak ngawur, gak isa dhuwur. Untuk pembaca yang masih kuliah atau baru lulus, wajib hukumnya kalian kuliah S2. Wajib!
Gara-gara kuliah S2, saya terpaksa hijrah ke sekolah lainnya. Di sekolah tersebut gaji pokok saya naik sedikit, menjadi satu juta pas. Jadi, awal kuliah gaji saya lima ratus ribu, selanjutnya sejutaan. Gaji segitu untuk kebutuhan hidup dan bayar kuliah, alhamdulillah cukup. Tidak hanya cukup, saya masih bisa beli macam-macam. Bahk…

Setara Setaraf

Saya barusan dapat DM pertanyaan tentang memilih pasangan. Seperti yang sudah-sudah, jawaban saya tentang kriteria pasangan yang baik adalah yang setara. Kalau laki-lakinya tampan menurut pandangan umum baiknya menikah dengan yang cantik, yang ibadahnya kenceng baiknya juga nikah dengan yang sepadan. Nikah dengan lelaki saleh banget belum tentu enak loh. Saya pernah dapat cerita tentang mbak-mbak yang akhirnya mumet karena nikah dengan ahli ibadah. Lha bagaimana gak mumet, suaminya kerjaan tilawah, shalat malam, zikir, kajian, padahal mbaknya penginnya jalan-jalan, dinner dst. Mbaknya suka dandan ala hijabers, suaminya berprinsip skincare terbaik adalah air wudhu. Gak nyambung. Ini bisa berakhir dengan mbaknya ikutan gemar ibadah tapi bisa juga ambyar seperti kasus selebgram yang diceraikan suami barunya beberapa waktu lalu. 
Ada juga teman yang wajahnya khas oriental menikah dengan orang Palestina yang tentu saja tampan sebagaimana umumnya. Seringkali kalau jalan bareng dan bawa anak…