Langsung ke konten utama

Buku-buku


Imam Malik meminta pendapat para ulama mengenai kitab yang ia tulis. Para ulama kompak menyetujui konten kitab itu, karenanya kitab itu dinamai Al Muwaththa. Tak butuh waktu lama keberadaan kitab itu segera populer. Khalifah menawarkan agar kitab itu diperbanyak dan salinannya ditaruh di pintu-pintu Masjidil Haram supaya bisa dibaca khalayak.

Imam Malik menolak tawaran khalifah sebab melihat Islam sudah meluas ke penjuru dunia, pemikiran fikih pun makin majemuk. Imam Malik tak ingin menyeragamkan pemahaman yang fitrahnya memang beragam. Khalifah geram, Imam Malik dianiaya sedemikian rupa.

Imam Malik tak takut dengan perbedaan pendapat. Bahkan ketika banyak kitab Muwaththa KW yang beredar, beliau menyikapinya dengan yakin bahwa hanya kitab yang ditulis dengan ikhlas yang akan bertahan dan tetap dibaca. Imam Malik tak memerintahkan murid-muridnya untuk merazia kitab-kitab yang berlainan dengan karyanya.

Jauh setelah masa itu lahirlah kaum yang suka merazia buku. Buku pendukung pemikiran anu dilarang. Anehnya, buku yang melawan pemikiran anu juga disita. Mungkin mereka memang tak bermasalah dengan isinya, mereka hanya anti (baca) buku saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …