Langsung ke konten utama

Pertengahan


Ikarus dan ayahnya merencanakan pelarian paling bersejarah. Mereka hendak melepaskan diri dari kurungan sang raja dengan terbang menggunakan sayap buatan. Ayah Ikarus adalah arsitek handal di Athena. Dia lah perancang labirin yang mengurung Minotaur, monster berkepala banteng.

Berbekal lilin dan bulu-bulu unggas yang disediakan untuk menghangatkan tubuh, mereka membuat sayap imitasi. Segera setelah sayap itu jadi, mereka terbang melewati tembok kota dan melayang menyeberang lautan.

Ayah Ikarus memperingatkan anaknya agar terbang tak terlalu tinggi maupun rendah. Jika terlalu dekat dengan matahari, lilin perekat sayap akan mencair. Jika terlalu rendah, pasukan raja dapat memanah mereka.

Ikarus terbang bagai manusia burung. Ia merasa seperti dewa, ia melesat dengan kebanggaan menuju matahari. Ia terbang meninggi kemudian mati, sebab sayapnya ambyar dan dirinya terjun bebas menghantam lautan.

Menjadi moderat, pertengahan atau wasathiyah adalah cara aman bertahan hidup. Hanya saja untuk mencapai titik tengah tak pernah mudah. Kecenderungan kita selalu memihak, ke kanan tau kiri, atas atau bawah, Sera atau New Pallapa, serrr....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …