Langsung ke konten utama

Pemaaf seperti Air


Dalam ilmu fikih, kesucian air yang lebih dari dua kulah tak hilang meski kecemplungan seuprit najis. Tak hanya suci, air tersebut masih sanggup menyucikan sesuatu dari hadas dan najis.

Fitrah (sifat bawaan) air adalah suci (Al Furqan: 48), demikian pula fitrah manusia. Jika kita sanggup memaafkan air yang terkena najis bahkan menjadikannya sarana bersuci, alangkah lebih bermanfaat jika kita memaafkan manusia yang memiliki aib dan memberinya kesempatan untuk berbuat baik bahkan menjadikan kita lebih baik.

Seseorang yang mencari teman yang tak memiliki kekurangan gak bakal punya teman selamanya. Nasihat imam Syafi'i tersebut ngena banget. Kita mesti membiasakan diri dengan ketidaksempurnaan, termasuk dalam diri kita sendiri.
Selevel sahabat Nabi pun masih ada yang suka mabuk kok, saking menjengkelkannya sahabat lainnya menjulukinya keledai. Manusia seperti ini pun masih disayangi Nabi, bahkan menyebutnya dalam golongan orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …