Langsung ke konten utama

Rabun Dekat


Nabi Muhammad adalah pribadi yang keren, hanya saja beliau sering disalahpahami. Banyak orang bersikap tak proposional memandang beliau lantaran terlalu benci atau terlalu cinta. Kalau dasarnya benci mungkin sudah banyak yang mafhum, sebaliknya yang disebabkan cinta saya pikir masih banyak yang belum menyadari.

Cinta berlebihan kepada Nabi yang membentuk pandangan serba luar biasa yang kadang menafikan sisi manusiawi beliau. Akibatnya Nabi justru sekadar jadi sosok dikagumi tapi tak diteladani. Nabi kadung menjadi sosok tak terjangkau saking hebatnya. Lah, padahal Nabi diangkat dari golongan manusia agar bisa ditiru manusia lainnya.

Kalau kita teliti membaca sejarah Nabi Muhammad, kita akan menemukan bahwa seringkali Nabi dibuat terlihat "biasa saja" oleh Allah. Momen macam itu biasanya memberikan umat kemudahan. Misalnya, Nabi pernah shalat empat rakaat tapi malah salam di rakaat kedua. Nabi pernah bangun subuh kesiangan. Nabi bersabda bahwa kematian yang baik adalah di hari Jumat atau dalam berjihad tapi beliau wafat di hari Senin karena sakit. Hal-hal semacam ini membuat kita tidak terlalu was-was otomatis masuk neraka kalau misalnya mati di hari Selasa atau lupa bilangan rakaat ketika shalat.

Sebenarnya tulisan ini mau saya tutup dengan iklan bahwa sisi manusiawi Nabi banyak saya ulas di buku saya, tapi saya urungkan niat itu karena tak enak hati kalau kebanyakan ngiklan. Ehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …