Langsung ke konten utama

Sisa Pilpres

Bagi saya, hal paling menyedihkan kala pilpres terakhir bukanlah Nurhadi Aldo gagal melenggang ke istana karena memang sedari awal mereka tidak berambisi pada kekuasaan duniawi. Yang lebih bikin ngilu adalah migrasinya para ustaz (semoga Allah merahmati mereka) jadi makelar politik.


Nyesek sekali rasanya lihat fenomena macam itu. Kalau sekedar punya kecenderungan sih tak apa, kalau sudah kebablasan sampai pengajian isinya cuma kampanye ya runyam. Ada lho, khutbah Jumat yang sampai diinterupsi gara-gara khatibnya terus-terusan orasi politik. Ada.

Untungnya masih tersisa juga yang fokus di keilmuan. Saya bukan model orang yang hidupnya ribet karena melihat orang yang sedikit berbeda langsung dicap sesat. Lha wong aku waƩ ketok'e rada sesat. Makanya saya juga gak pakai standar muluk-muluk dalam milih pengajian. Penting jelas sanad keilmuannya, baik adabnya, egaliter dan lucu. Lucu adalah ekspresi kecerdasan yang paling menarik. Ustaz yang cuma uring-uringan mungkin memang gak punya stok humor memadai. Perlu didoakan agar segera mendapat hidayah. Ngamuk-ngamuk itu nampaknya bid'ah dalam dakwah, jauhilah.

Soal adab cukup jelas, orang yang adabnya buruk gak layak dijadikan rujukan ilmu agama. Ra masuk! Egaliter juga penting, ustaz kemaki otomatis gak masuk radar. Imam Ahmad pernah menegur guru yang duduk di tempat teduh sementara muridnya kepanasan. Begitu saja tak boleh, apalagi minta yang serba mewah. Terakhir, perihal punya keilmuan yang memadai jelas paling penting. Kok kebangeten, ada orang yang gak bisa bahasa Arab, baca Quran belepotan, pengetahuan tentang tarikh amburadul bisa dipanggil ustaz, pengikutnya banyak pula. Terkejut akang, terheran-heran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …