Langsung ke konten utama

Tiba-Tiba

Suatu ketika saya dibelikan pistol-pistolan oleh ibu saya. Mainan itu dibeli dengan seluruh “gaji” ibu saya, ya, seingat saya memang semahal itu harganya. Mainan itu memang keren luar biasa. Saya pamerkan petentang-petenteng kemana-mana. Wajah melas yang sebelumnya saya jadikan senjata agar dibelikan mainan itu musna sudah. Top dah!


Tragis, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika saya bermain bola, mainan itu terinjak hingga pecah. Ambyar. Rusak. Berantakan. Seperti hati pemiliknya. Saya menangis. Sedih luar biasa. Bukan hanya karena kehilangan mainan, tapi saya ingat bahwa mainan itu dibeli dengan sangat mahal. Saya menangis karena meratapi kegoblokan diri sendiri. Sepanjang sore itu air mata banjir tanpa terkontrol. Ibu saya ikut menangis.

Bertahun berikutnya saya mulai menyadari makna dari tragedi itu. Semua yang ada di dunia ini tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Betapapun cintanya kita pada sesuatu, perasaan itu tak mampu menahannya untuk pergi bila memang sudah waktunya. Harta benda yang dikumpulkan seumur hidup bisa amblas dalam hitungan detik dilahap api atau dicaplok banjir. Anak, istri, jabatan dan apapun yang seakan kita miliki dapat setiap saat pergi tanpa kembali. Setiap yang datang pasti akan pergi. Pasti akan pergi atau kita tinggal pergi.

Jangan percaya pada ia yang datang tiba-tiba, karena ia akan pergi dengan cara yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulya

Anak yang berpose mangap sepertiku bernama Ulya. Ini bocah yang bikin aku gak PD jadi guru. Lha piye, pinteran dia daripada aku. Mulanya aku ngajar dia bahasa Arab, lantas ganti jadi tahfizh, hafalan Qur'an. Seingatku foto ini diambil ketika dia kelas 2 dan dia sudah hafal puluhan surah. Yap, anak ini sudah hafal berjuz-juz sebelum baligh. Terus piye perasaanmu nèk ngajar bocah ngéné iki?
Sewaktu seumuran dia, aku baru belajar Iqra'. Kelas empat aku baru hafalan Syifaul Jinan fi Tarjamati Hidayatish Shibyan (شفاء الجنان في ترجمة هداية الصبيان) karya Ahmad Muthahhar bin Abdurrahman, itupun belum paham maksudnya. Kelas 5 mulai praktik dan tahun berikutnya mulai talaki selama 3 tahun lebih untuk menyelesaikan bacaan 30 juz. Artinya, Ulya yang masih kelas 2 SD lebih baik dariku ketika SMA perihal Al-Qur'an.
Pengalaman mengajar anak-anak seperti Ulya ini menggedor kesadaranku bahwa jadi guru adalah tugas berat. Dilan belum tentu kuat. Harga diriku babak belur ketemu anak-anak y…

Setara Setaraf

Saya barusan dapat DM pertanyaan tentang memilih pasangan. Seperti yang sudah-sudah, jawaban saya tentang kriteria pasangan yang baik adalah yang setara. Kalau laki-lakinya tampan menurut pandangan umum baiknya menikah dengan yang cantik, yang ibadahnya kenceng baiknya juga nikah dengan yang sepadan. Nikah dengan lelaki saleh banget belum tentu enak loh. Saya pernah dapat cerita tentang mbak-mbak yang akhirnya mumet karena nikah dengan ahli ibadah. Lha bagaimana gak mumet, suaminya kerjaan tilawah, shalat malam, zikir, kajian, padahal mbaknya penginnya jalan-jalan, dinner dst. Mbaknya suka dandan ala hijabers, suaminya berprinsip skincare terbaik adalah air wudhu. Gak nyambung. Ini bisa berakhir dengan mbaknya ikutan gemar ibadah tapi bisa juga ambyar seperti kasus selebgram yang diceraikan suami barunya beberapa waktu lalu. 
Ada juga teman yang wajahnya khas oriental menikah dengan orang Palestina yang tentu saja tampan sebagaimana umumnya. Seringkali kalau jalan bareng dan bawa anak…

Gaji dan Kecukupan

Setelah sidang skripsi, alhamdulillah saya segera dapat pekerjaan sebagai guru. Gaji pokok saya lima ratus ribu. Saya masih dapat tambahan dua ratusan ribu karena bertugas sebagai pembina asrama. Artinya saya kerja seminggu penuh, selama dua puluh empat jam sehari dengan gaji pokok sekitar tujuh ratus ribu. Alhamdulillah cukup.
Tak berselang lama, saya kuliah pascasarjana. Iya, modal ngawur dengan gaji di bawah UMR. Kalau dihitung-hitung yang gak masuk blas. Alhamdulillah nyatanya bisa bayar sampai wisuda. Hidup anak muda memang harus ngawur. Gak ngawur, gak isa dhuwur. Untuk pembaca yang masih kuliah atau baru lulus, wajib hukumnya kalian kuliah S2. Wajib!
Gara-gara kuliah S2, saya terpaksa hijrah ke sekolah lainnya. Di sekolah tersebut gaji pokok saya naik sedikit, menjadi satu juta pas. Jadi, awal kuliah gaji saya lima ratus ribu, selanjutnya sejutaan. Gaji segitu untuk kebutuhan hidup dan bayar kuliah, alhamdulillah cukup. Tidak hanya cukup, saya masih bisa beli macam-macam. Bahk…

Sekelumit tentang Jilbab

Apakah semua muslimah di masa Rasulullah memakai jilbab? Tidak.
Ketika ayat tentang kewajiban berhijab turun Madinah memang riuh karena para muslimah yang bergegas nyari kain untuk menutupi rambut mereka. Saking semangatnya mengikuti perintah itu, sampai-sampai sembarangan kain dipakai, entah taplak atau apalah. Hijab langsung menjadi populer di komunitas muslimah tapi tak semua memakainya. Umar bahkan pernah menyuruh seorang wanita melepas jilbabnya. Siapakah mereka yang gak pakai jilbab bahkan memang gak diperintahkan memakainya? Budak wanita. Budak wanita gak disuruh pakai jilbab karena kalau dirunut dari sejarahnya, salah satu hikmah jilbab adalah agar wanita muslimah merdeka dapat dibedakan dengan budak wanita.
Apakah pandangan fikih tentang berjilbab kompak persis? Tidak juga.
Frase "kecuali yang biasa nampak" dalam perintah berhijab sedikit luwes ditafsirkan oleh ulama. Sebagian ulama Kufah sedikit lebih longgar soal batasan tubuh wanita yang mesti ditutup. Mereka mem…

Mrengut

"Semua guru dan karyawan harus senantiasa senyum," kata pengurus yayasan yang menaungi sekolah tempat saya kerja. "Saya tidak bisa senyum," kata saya. "Kalau sudah di sini pasti bisa," katanya. "Rahang saya sakit jika terlalu banyak senyum," tukas saya. 


Saya tidak sedang melucu, saya memang tak mudah menyungging senyum. Di dunia ini memang ada orang yang ekspresi wajahnya selalu terlihat kesal, sedikit menghakimi, dan terlihat bosan. Pemilik wajah macam itu biasa disebut Bitchy Resting Face (BRF). Washington Post pernah memuat kajian khusus terkait hal ini. 


Pemilik BRF bisa dari kalangan mana saja. Artis Kristen Stewart sampai Ratu Elizabeth termasuk mereka yang memiliki BRF. Bagi mereka yang punya BRF, tersenyum manis bukan perkara mudah, pahamilah. Apa yang mudah bagi seseorang belum tentu berlaku untuk orang lain. Mari berhenti menghakimi. 


Ah, mungkin sebaiknya saya pindah ke Rusia saja, karena di sana senyum-senyum bisa masuk kategori pel…