Langsung ke konten utama

Tiba-Tiba

Suatu ketika saya dibelikan pistol-pistolan oleh ibu saya. Mainan itu dibeli dengan seluruh “gaji” ibu saya, ya, seingat saya memang semahal itu harganya. Mainan itu memang keren luar biasa. Saya pamerkan petentang-petenteng kemana-mana. Wajah melas yang sebelumnya saya jadikan senjata agar dibelikan mainan itu musna sudah. Top dah!


Tragis, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika saya bermain bola, mainan itu terinjak hingga pecah. Ambyar. Rusak. Berantakan. Seperti hati pemiliknya. Saya menangis. Sedih luar biasa. Bukan hanya karena kehilangan mainan, tapi saya ingat bahwa mainan itu dibeli dengan sangat mahal. Saya menangis karena meratapi kegoblokan diri sendiri. Sepanjang sore itu air mata banjir tanpa terkontrol. Ibu saya ikut menangis.

Bertahun berikutnya saya mulai menyadari makna dari tragedi itu. Semua yang ada di dunia ini tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Betapapun cintanya kita pada sesuatu, perasaan itu tak mampu menahannya untuk pergi bila memang sudah waktunya. Harta benda yang dikumpulkan seumur hidup bisa amblas dalam hitungan detik dilahap api atau dicaplok banjir. Anak, istri, jabatan dan apapun yang seakan kita miliki dapat setiap saat pergi tanpa kembali. Setiap yang datang pasti akan pergi. Pasti akan pergi atau kita tinggal pergi.

Jangan percaya pada ia yang datang tiba-tiba, karena ia akan pergi dengan cara yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …