Langsung ke konten utama

Penyelinap


Saya pikir-pikir tampilan saya hari ini lumayan ngaco tapi penuh arti. Tas Rei ala-ala aktivis, jaket kelas zaman S1 simbol konsistensi alias ora tau ganti, baju batik hadiah dari emak-emak pengajian menggambarkan nasionalisme, celana hitam cingkrang anggap saja ciri radikal konservatif, wadidaw. Aktivis muda yang konsisten, nasionalis dan konservatif, begitulah kira-kira citra penuhnya, padahal aslinya tidak begitu. Alasan aslinya karena tidak punya seragam necis seperti petugas kecamatan atau guru-guru PNS yang sering ngebis bareng saya. Ehe.

Kelewat satu, sepatu sneaker murahan lambang kesunyian, mergawe gak kakehan lambe. Ini otak-atik saya sendiri sebab kata "sneaker" kan arti harfiahnya penyelinap, hehe. Dinamai begitu karena sepatu yang rilis di awal abad 20 ini tidak berisik seperti generasi pendahulunya. Sneaker yang berbahan karet dan kanvas keds tidak berbunyi klotak-klotak sehingga pas buat menyelinap. Meski bahan sneaker meredam bersuara tapi popularitasnya menggema. Seperti bekerja, tak perlu berisik banyak cerita, yang penting manfaatnya terasa. "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah ayat 105)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mantra Mantan

Cerita cinta tanpa ada konsep mantan mungkin hanya milik Adam dan Hawa. Anak cucunya, kita-kita ini, rasanya mustahil gak pernah punya sejarah cinta-cintaan yang gak kesampaian. Pacar mungkin belum pernah punya, tapi ada gebetan, inceran, crush, atau apalah sebutannya. Kita ini lemah soal cinta, lihat yang sedikit bening langsung ingin ngajak berumah tangga. Ketemu dosen mirip Dude Herlino bukan karya tulisnya yang ditanyakan tapi malah status pernikahan. Relevansinya apa dengan perkuliahan, Oneng. Habis stalking selebgram langsung ngirim DM, “tipe suami ideal kamu kayak apa, aku ingin memaksakan diri.”Ajur.Mantan adalah bagian dari kenyataan tak terelakkan. Mari berdamai dengannya mengikuti hikmah berserak dalam lagu-lagunya Cak Nan. “Sugeng dalu, ati sing biyen tau ngelarani” betapa kalimat ini mengandung isyarat ketabahan, keikhlasan dan kebaikan lain. Mengucap salam, mempersilakan bahkan memberikan nasihat, “mario leh mu dolanan ati, wis wayahe we kapok mblenjani.” Tak hanya itu, …

Sebuah Niat

Saya kepikiran menulis sirah nabawiyah dan tarikh khulafa’ dengan gaya bercerita yang berbeda dengan pembawaan buku PAI atau SKI. Saya rasa bakalan asyik membahas letak rumah Suku Quraisy di era Nabi sehingga ketahuan rumah siapa saja yang dilewati Nabi saat pergi ke Ka’bah, berapa jarak rumah Abu Lahab yang suka merusuhi Nabi. Kisah Ka’bah yang sering dipanjat maling kelihatannya juga seru, berapa tingginya bangunan itu, berapa kali kebanjiran atau kapan ia kebakaran. Mengusili kemapanan kisah Khalid melawan ratusan ribu pasukan Romawi dilihat dari logis tidaknya orang sebanyak itu berkumpul di area seukuran Lapangan Yarmuk, mungkin bisa memicu amukan netizen. Bahasan tentang pencemaran irigasi Yatsrib mungkin juga oke. Bahasan ringan seperti bagaimana Nabi menjaga kaos kakinya agar tidak melorot mungkin bisa diteladani. Warna sepatu Nabi bisa jadi inspirasi fesyen pembaca.Jalinan kekeluargaan dan pernikahan di masa Nabi barangkali juga seru sekaligus rumit. Nabi menikahi putri Umar;…

Menangisi Dunia

“Seandainya aku mengangkat sebuah batu niscaya aku temukan emas di bawahnya,” kurang lebih demikian Abdurahman bin Auf menggambarkan bagaimana dunia tunduk padanya. Beliau adalah konseptor sekaligus ‘living model’ bagaimana semestinya seorang muslim mendapatkan kemudian menempatkan harta.
Pasca hijrah, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran harta dan istri dari saudara ansharnya, Sa’ad bin Rabi’ dan hanya minta ditunjukkan lokasi pasar. Pada titik ini tergambar bahwa Abdurrahman bin Auf memiliki konsep yang jelas untuk mendapatkan harta dari titi nol. Beliau secara gamblang mencontohkan bagaimana memulai bisnis sebagai minoritas (muhajirin), miskin (karena seluruh hartanya ditinggal hijrah) dan di tempat yang sangat tidak mendukung (Pasar Yahudi Bani Qainuqa).
Abdurahman bin Auf memiliki dua belas istri dan enam “ummahatul aulad” (budak wanita yang melahirkan anaknya). Bukan kebetulan jika mayoritas dari istri beliau berasal dari Bani Abdi Syams (Bani Umayyah, keluarga Utsman) yang merupak…

Agama Kampung

Kala mudik ke Ngawi, saya menemukan sebuah fotokopian kitab, kalau tidak salah karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Kitab itu milik ibu saya, sedang beliau pelajari di madrasah diniyah. Yes, ibu saya masih ngaji di masjid. Diskusi keagamaan di madrasah kadang-kadang berlanjut di sawah sambil tandur atau matun. Kegiatan keagamaan lumayan banyak di kampung saya, seperti umumnya kultur masyarakat muslim tradisional. Walau ada kelompok taklim tapi gaya beragama di kampung saya bukan tipe intelek seperti gejala muslim perkotaan. Agama bagi mereka adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang sudah turun-temurun dan tidak perlu argumen fikih yang njelimet. Agama menjadi lelaku.Ibu saya dan sebagian tetangga meskipun rajin ngaji tapi tidak pandai beretorika seperti para penceramah. Mereka belajar agama memang tidak untuk tujuan seperti itu. Mereka belajar untuk dinikmati sendiri, atau setidaknya agar tidak gelagapan ketika ditanya anaknya hukum nun mati bertemu mim, atau sedikit-sedikit tahu …

Imperfections

Mbokku pernah memuji mobil baru seorang kerabat yang suaranya tak berisik seperti mobil kebanyakan kala itu. Makin senyap suatu mobil bakal dicitrakan makin mewah. Lantas belakangan ini muncul mobil listrik yang benar-benar bisu. Kebisuan yang semula diidamkan berbalik dikhawatirkan. Mobil tanpa suara berpotensi memicu kecelakaan karena kehadirannya kurang disadari pengemudi lain. Dari hal tersebut pak menteri sampai kepikiran bikin regulasi agar mobil listrik dibuat agak bersuara.
Kesempurnaan adalah ketidaksempurnaan lain. Sebagai tukang pasang gas elpiji, saya pernah kepikiran alangkah enaknya kalau bau gas itu tak bikin mblenger. Di waktu kemudian saya dapat referensi yang mengabarkan kalau gas elpiji ternyata memang sengaja dibikin bau. Elpiji yang mulanya tak berbau dikhawatirkan tak teridentifikasi bila tabungnya mengalami kebocoran. Ketidaksempurnaan elpiji ternyata punya makna yang tak banyak dipahami. 

Hidung pesek mungkin dianggap kekurangan, tapi kata mbokku itu adalah kele…