Langsung ke konten utama

Shalat Ekspres


Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.

Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mendirikan shalat qabliyah subuh sebagaimana beliau shalat gerhana matahari yang lamanya beliau berdiri seperti lamanya membaca Albaqarah.

Rasulullah juga meringankan shalat fardhu (walaupun tidak seperti qabliyah Subuh) ketika mengimami banyak orang karena perhatian beliau kepada jamaah yang tua, sakit, lemah atau memiliki keperluan. Meringankan dalam konteks ini bukan berarti tergesa-gesa seperti shalatnya pencuri. Ringannya shalat Rasulullah tetaplah memenuhi kesempurnaan shalat. Ringan dalam konteks ini berarti lebih singkat dari shalat yang beliau lakukan sendirian. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa contoh shalat berjamaah yang ringan adalah ketika Rasulullah membaca Ash-Shaffat (182 ayat, duh!). Bila kita benar-benar menikmati shalat, menjadikannya media untuk berbincang kepada-Nya, tentu kita tidak akan berseru, “Qulhu wae, Lik! Kesuwen!” (Jejak-Jejak Mengagumkan, 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…