Langsung ke konten utama

Terimalah

Kemarin ada perempuan bertanya kepada saya, "Apakah semua wanita cantik?"

"Tentu saja tidak. Terimalah kenyataan," kata saya.
"Semuanya cantik," kata temannya.
"Ah, jujur sajalah, seseorang sebenarnya bisa mengukur dirinya sendiri, apakah dia cantik atau tidak. Jelek bukanlah masalah, tak apa. Terimalah." Saya heran, apa enaknya hidup dalam kepura-puraan? Kalau memang faktanya tidak cantik, bukankah pujian seperti apapun tak bakal mengubah keadaan? Wajah yang cantik atau tidak adalah bawaan lahir, takdir. Memang bisa diperbaiki dengan operasi atau filter kamera jahat, tapi bukannya hal itu justru membuktikan bahwa ada wanita-wanita yang mengakui dirinya kurang cantik?

Saya sering diperkenalkan sebagai seorang hafizh ketika ngisi ceramah di kajian emak-emak. Mulanya ada sensasi bangga, tapi tak berlangsung lama. Saya segera sadar, saya tak pantas menerima pujian itu. Lha wong juz 30 saja ambyar kok, apalagi 30 juz. Masa' saya mau memfitnah diri sendiri sebagai orang yang hafal Quran padahal lebih fasih dangdutan. Ah, kalau saya harus sesaleh kata emak-emak itu, nanti saya jadi terlalu istimewa. Begini saja sudah cukup mempesona.

Balik ke masalah cantik. Aisyah bukan istri Nabi yang paling cantik, masih ada Zainab dan lainnya. Meski begitu, Aisyah adalah yang paling istimewa, paling disayang Nabi karena kecerdasannya. Lewat dirinya ribuan hadis diriwayatkan, luar biasa! Para sahabat pun berguru padanya.

So, kalau kamu kurang cantik, ya rajin-rajinlah belajar. Jangan sampai jadi wanita yang jelek, bodoh, malesan, miskin, bau, ingah-ingih, jewiwak-jewiwik, ibas-ibis.... La yamutu wa la yahya, tak bermutu, menghabiskan biaya.

Percayalah, wanita cerdas lebih menarik...
apalagi yang sekaligus cantik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget

Selama berabad-abad umat Islam merasa paling hebat di muka bumi. Mereka menganggap dirinya sebagai komunitas dengan peradaban paling maju. Sebelum era perang salib, cendikiawan muslim biasa memandang rendah Eropa, menyebut mereka terbelakang dan jauh dari kemajuan sains. Ibnu Khaldun yang hidup di abad ke-14 pun masih berpendapat seperti itu. Pandangan itu lestari hingga berabad-abad bahkan sisanya masih ada sampai hari ini. Seperti kata Lockdown kepada Optimus Prime dalam “Age of Extinction”, manusia adalah makhluk naif yang menganggap dirinya sebagai pusat semesta. Padahal, ia hanya belum tahu bahwa ada yang melebihi dirinya.
Rasa percaya diri komunitas muslim di Mesir goyah ketika negeri itu tiba-tiba diinvasi orang-orang Eropa yang selama ini diremehkan. Tahun 1798, Napoleon yang baru berusia 28 tahun memasuki bekas wilayah kekuasaan Amru bin Ash itu. Empat puluh ribu pasukan mendarat di Aleksandria, menyadarkan kaum muslim bahwa dunia sudah tidak seperti yang mereka pikirkan. Pa…

Shalat Ekspres

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa menjaga shalat sunnah, terutama shalat sunnah sebelum subuh. Menariknya, shalat qabliyah tersebut dikerjakan secara ekspres, lebih singkat dibanding shalat lainnya. Saking singkatnya, Aisyah pernah berkomentar dengan heran, “Apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Alfatihah?” Para ulama berkomentar bahwa kalimat Aisyah hanyalah hiperbola untuk menegaskan betapa ringannya shalat yang Rasulullah dirikan. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah membaca Al-kafirun dan Al-ikhlas setelah Alfatihah dalam shalat qabliyah Subuh. Rasulullah pernah shalat malam empat rakaat dengan membaca Albaqarah hingga akhir Almaidah, alias enam seperempat juz. Jika lamanya shalat qabliyah Subuh dibandingkan dengan shalat tersebut tentu saja komentar hiperbolis Aisyah terasa pas.
Perbedaan durasi shalat sunnah Rasulullah secara implisit menggambarkan keluhuran akal budi beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Tentu tidak bijaksana bila Rasulullah …